Archive for June, 2006

Malapraktek or what ?

Wednesday, June 14th, 2006

Sangat susah memang menjerat seorang dokter dengan tuduhan
malapraktek. Alasannya, katanya nggak mungkin seorang dokter berniat mau
mencelakakan pasiennya. Tapi coba kalo anda seorang pengobat
alternative/herbalis, kesalahan sedikit saja bisa dituduh malapraktek. Tapi
sudahlah, saya tidak akan memperpanjang masalah itu. Sekarang coba simak sebuah
jawaban email dari seorang dokter pengasuh milis terhadap pertanyaan member
milis.

 Bold: jawaban dari dokter pengasuh milis.
Italic: pertanyaan dari member milis.

 
—–Start of Email——-


Maaf saya baru bisa menanggapi sekarang. Pasti anakmu sudah oke

kan

sekarang. Yuk kita coba telaah beberapa
hal terkait anakmu.

> Anak saya Akhir2 ini sering diare…
dihari ketiga tambah lesu dan lemes
> sekali.

Anak sakit pasti lesu dan lemas. Namun
demikian, coba pelajari kembali
gejala dehidrasi. Penting sekali karena apabila kamu tidak menguasainya maka anakmu
potensial jadi "korban" kepanikan yang mungkin sebenarnya kurang berdasar.

> …. akhirnya dirawat, diinfus terus
oleh dokter

Anak hanya perlu diinfus kalau dehidrasi
berat. Dalam Ilmu Kesehatan Anak ada panduan MTBS (Manajemen terpadu balita
sakit), dimana tenaga medis ditatar perihal penanganan gastroenteritis. Namun demikian,
keluhan yang sering dilontarkan adalah … mengapa terlalu mudah memutuskan
untuk memasang infus saat menangani anak gastroenteritis . Apa betul anakmu
dehidrasi berat? Berapa % BBnya turun?

diresepkan:
> 1. Tirdicep Inj 16 —-
(antibiotika
golongan sefalosporin)

> 2. Mikacin Inj 250 Mg
(antibiotika
golongan aminoglikosida - amikasin?)

> 3. Neo Kaolana sirup —-
(tidak
perlu dan sudah dilarang di negara maju)

> 4. Vometa sirup ——
(tidak
perlu)

> 5. Susu bebelac FL —–
(tidak
perlu/ASI mana?)

> 6. -Mycostatin tablet 500 Mg —-
(anti
jamur —- tidak perlu)

>   -Cefspan capsul 50 Mg —-
(antibiotika golongan sefalosporin)
>   -Aspirin Tablet 500 Mg —-
(tidak boleh untuk anak di bawah usia 12
> tahun)

>   -Equal tablet @300

Aduuuh saya prihatin
… antibiotikanya 3?
Padahal kita tahu bahwa umumnya gastroenteritis pada bayi dan anak kecil
penyebabnya infeksi virus. Kasus ini merupakan contoh IRUD
(Irational Use
of Drugs –red) yang baik (polifarmasi,
pemberian antibiotika berlebihan, pemberian obat yang tidak perlu, pemborosan,
lack of information).

> Dihari kedua masih diare kemudian
dikasih lacto B.

Hehehe kalau antibiotikanya segudang
gitu dan kelas berat … ya pasti
diare lah anakmu.

> Akhirnya saya tidak kasih susunya,
hanya air putih+ oralit.

Nanti dari mana anakmu dapat kalori
untuk penyembuhannya? Mestinya
makan tetap diberikan. Justru lacto B-nya gak perlu.

> Kemudian kita disuruh pulang,karena
badan agak panas diresepkan lagi
> Buffect.

Aduh …agak anget tuh apa sih
maksudnya? Kalaupun demam di atas 38.5

kan

culkup parasetamol.

> Tapi setiba dirumah saya kasih susu
SGM, kemudian mencret lagi

Rotavirus bisa bikin diare sampai 2
minggu meski rata2 sih 3 - 5 hari
Anakmu diare bukan karena SGM-nya tapi karena obat obatannya.

> Apa yang harus saya lakukan lagi??

Pelajari dan browsing gastroenteritis.
Kalau tinja ada darah … periksa lab.
kalau tak ada darah …. kasih obat: oralit!!
Semoga membantu dan semoga kita bisa belajar banyak dari pengalaman yang lalu.
wati

—-End of email—–

 

Yah itulah, masih banyak dokter yang secara brutal
memberikan obat kepada pasiennya. Tapi yang pasti mereka tidak akan kena
malapraktek karena melakukan hal itu. Sedangkan pasien harus membeli obat
dengan harga segunung ditambah lagi harus memasukkan sesuatu belum tentu
bermanfaat (bahkan beracun) bagi kesembuhan dirinya.

Untung masih ada dokter seperti dokter pengasuh milis ini yang mau
meluangkan waktunya untuk mengkampanyekan RUD (Rational Use of Drug).

Saya jadi teringat salah satu prinsip pengobatan nabi yang
disampaikan seorang ulama yaitu

“Apabila tubuh masih bisa menahan sakit, maka jangan minum
obat”

padahal obat jaman dulu itu masih berupa racikan alami, tapi
prinsip itu sudah diberlakukan, bagaimana dengan obat sekarang yang sebagian
besar sintetis ?

Maka waspadalah…

Very Rapid Application Development

Wednesday, June 14th, 2006

Very Rapid Development (VRAD) adalah metodologi pengembangan
baru yang saya ciptakan, yang lebih ke-Indonesia-an, atau lebih ke-Kita-an,
atau istilah gaulnya Kita banget gitu lho. Metodologi ini termasuk agile
methodology,
bahkan menurut saya bisa menjadi "the most agile
methodology in the world".


So donwload aja for free…klik here

Any comment , masukan, cacian, dan lain-lain sangat terbuka, demi kemajuan
methodology ini.

Sumonggo…