Konstipasi kok, dikira mencret. Tidak Nyambung.

Kisah ini terjadi sekitar tahun 2001. Waktu itu anak saya yang pertama berusia 2 tahun, sembelit. Dia sudah beberapa hari tidak buang air besar (BAB). Ketika kami menginap di rumah orang tua, dia mulai rewel, dan badannya agak hangat, mungkin karena lama tidak buang air. Lalu kami membawanya ke rumah sakit PP dikawasan mayestik, karena RS itu yang paling dekat dengan rumah orang tua saya.
Waktu itu hari minggu, tidak ada dokter, bahkan dokter jaga sekalipun (kalo tidak salah). Saya berharap anak saya bisa mendapat tindakan langsung dari dokter agar bisa segera BAB. Ternyata tidak. Tindakan yang diambil adalah menginfus anak saya. Tahukah anda ? anak saya menangis hampir satu jam, dengan jarum infuse menempel di tangan. Perawat yang ada di situ pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah satu jam anak saya diam, mungkin karena kecapekan, mungkin pula karena sudah bisa menerima keadaan bahwa dia harus diinfus. Lalu masuklah anak saya sebagai pasien rawat inap.
Anak saya diambil sample darah dan urinenya. Saya mulai sebel, apa hubungannya darah dan urine dengan penyakit susah BAB (konstipasi). Tapi saya masih pasrah. Perawat sempat minta kotoran anak saya untuk dicek. Saya makin sebel, la wong penyakitnya susah BAB, kok malah minta kotorannya. Sungguh tidak nyambung.
Keesokan harinya dokter datang. Dengan entengnya dokter bertanya apakah anak saya mencretnya sudah berkurang. Wah benar-benar tidak nyambung nih dokter. Saya mulai nggak percaya sama nih RS.
Lalu saya kasih anak saya papaya. Nggak berapa lama setelah makan papaya, anak saya bisa BAB. Alhamdulillah. Setelah itu dia sudah tidak rewel lagi, bahkan minta jalan-jalan sambil nenteng infuse.
Keesokan harinya saya minta pulang, tapi sempat ditahan sama perawat agar jangan pulang dulu. Saya lupa alasan perawat, kalo tidak salah alasannya adalah menunggu hasil tes darah. Tapi saya bersikeras tetap ingin pulang, soalnya anak saya memang sudah sehat. Saya pun beralasan ke perawat bahwa saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama. Dan kami pulang akhirnya pulang.
Demikian kisah saya. Dalam kisah ini saya ingin menggambarkan betapa pelayanan kesehatan menjadi semata-mata kepertingan bisnis.
Wallahu’alam

Leave a Reply