Archive for May, 2006

Percaya atau Tahu ?

Sunday, May 28th, 2006

Apakah anda percaya atau tahu bahwa orang tua yang anda kenal sebagai orang tua anda, adalah sungguh-sungguh orang tua anda ? Saya yakin anda semua percaya saja bahwa orang tua anda yang sekarang adalah memang sungguh-sungguh orang tua kandung anda. Anda tak perlu repot mencari tahu, karena dengan tes DNA saja kemungkinannya baru 75%. Namun dalam hal ada anasir yang mengganggu kepercayaan anda, maka cara ini dapat dicoba, paling tidak anda 75% tahu, sisanya percaya.Tapi itu juga kalo tidak menyakiti hati ibunda anda.

Selama kurun hampir 33 tahun, saya percaya golongan darah saya O, karena itu yang dikatakan ibu saya. Saya nggak pernah mencari tahu, karena buat apa ? Toh, Oguuut jugaaaa manusia, punyaaaa darah punya hati. Hal yang sama terjadi juga pada istri saya. Dalam kurun waktu yang hampir sama, dia percaya bahwa goldarnya adalah O, karena itu yang dikatakan ibunya. Dan sama seperti saya, tampaknya dia nggak pernah ambil pusing mengenai hal itu.

Ketika anak-anak kami lahir, ternyata bergoldar A. Alih-alih saya meragukan apakah itu anak-anak saya atau bukan, justru saya malah meragukan bahwa istri saya bergoldar O.

Sampai suatu ketika anak saya diopname di sebuah RS yang dekat dengan toko buku. Iseng-iseng saya main ke toko buku, sementara anak saya ditunggui istri saya. Di toko buku, saya menemukan sebuah buku yang berjudul "Diet Sehat Golongan Darah" karya D’Alamo, yang terdiri dari 4 buah buku, masing-masing untuk goldar A, B, AB dan O. Buku yang menarik, saya belilah buku untuk goldar A dan O. Kenapa ? karena saya percaya goldar saya O dan goldar istri saya A.

Sesampainya di kamar RS, saya berikan buku itu kepada istri saya.

"Siapa yang golongan darah A ?", tanya istri saya.

"Bunda kan yang bergolongan darah A", jawab saya.

"Ah nggak, dari kecil juga, golongan darah bunda O", tegasnya.

"Nggak mungkin, anak-anak kita ada yang bergolongan darah A, mana mungkin kita berdua bergolongan darah O, pasti ada yang bergolongan darah A", ngotot saya.

"Ayah kali golongan darah A", katanya.

Mungkin juga, karena saya memang percaya saja apa yang dikatakan ibu saya bahwa goldar saya O. Akhirnya dari pada bingung siapa yang benar, maka saya putuskan untuk cek goldar. Mumpung masih di RS, tinggal ke lab, lalu minta periksa goldar. Saya yang pertama kali ke lab,  setelah diambil darahnya, saya kembali ke kamar, dan menyuruh istri saya untuk periksa darah juga, sekalian mengambil hasil cek darah saya.

Tidak berapa lama kemudian istri saya masuk kamar sambil senyum-senyum. Lalu saya buka amplop hasil tes darah istri saya.

"To kan, golongan darah bunda A, ayah yakin dari dulu juga golongan darah bunda itu A, soalnya golongan darah ayah O", kata saya penuh kemenangan.

Istri saya hanya senyum-senyum aja, lalu saya buka hasil tes goldar saya.

"Lho, kok A juga !", teriak saya nggak percaya.

Istri saya ngakak. Saya sungguh-sungguh tidak percaya kalo goldar saya A. Apalagi menurut buku diet golongan darah itu, orang goldar A pantang makan daging sapi dan daging kambing, hal sebaliknya untuk goldar O. Oh, mana mungkiiiin !!!!! Orang padang gitu loh, indak boleh makan randang. Ala mak, serasa langit-langit RS runtuh. <– norak, terlalu didramatisir.

So, bagaimana dengan anda sudah tahu sesuatu atau baru percaya ?

MANTRA

Sunday, May 28th, 2006

MANTRA : Resensi Buku

"

Saya harap ini  buku terakhir yang ditulis dengan topik ini. Saya

tidak ingin rahasia gelap ini diketahui banyak orang" (Rommy Raffael)

Demikian quot yang ditulis ahli hipnotis yang sering tampil di TV ini

mengenai buku karangan rekan seprofesinya, Dedi Corbuzier. Quot ini

pulalah ini membuat orang banyak ingin membaca buku ini, padahal cukup

banyak orang terkenal yang memberikan quot untuk buku ini.

Buku ini berisi sebagian kecil dari ilmu Dedi Corbuzier. Dalam buku ini

dibahas mengenai seni komunikasi bahasa (languange deception art) dan

seni komunikasi tubuh (body deception art).

Kedua topik tersebut sangat bermanfaat, banyak hal-hal baru yang bisa

kita dapat. Contohnya pada topik seni komunikasi bahasa, DC memberi

contoh bagaimana kita menyampaikan informasi yang ‘menjual’ apabila

orang yang kita berikan informasi tersebut sudah mempunyai informasi

pembanding atau sebaliknya bagaimana kita menyampaikan informasi yang

membuat orang tidak ingin mencari informasi pembanding di tempat lain

dalam hal orang tersebut belum mempunyai informasi pembanding.

Hal menarik lainnya dalam topik seni komunikasi bahasa adalah dimana DC

menyampaikan pengalaman-pengalamannya. Salah satunya adalah bagaimana

dia menolak bujukan orang yang mengajaknya memakai narkoba, secara

elegan, berseni dan mematikan.

Topik kedua, seni komunikasi tubuh, tidak kalah menarik, bahkan jauh

lebih bermanfaat. Dalam topik ini DC mengajarkan kita mengetahui apakah

seseorang itu sedang berbohong atau tidak, hanya dengan melihat

pandangan matanya ketika berbicara. Sungguh dahsyat, mungkin ini salah

satu ‘rahasia gelap’ yang disebut RR.

Pada topik kedua ini, DC juga mengajarkan kita bagaimana kondisi psikis

seseorang, apakah orang itu sedang cemas, marah, jatuh cinta hanya

dengan melihat jari-jari yang dimainkan. Contohnya apabila seseorang

mengetuk-ngetukan jari tengah ke meja menunjukan orang tersebut dalam

kondisi (menahan) marah. Mengetuk-ngetukan jari tengah, juga salah satu

cara untuk meredakan kemarahan itu sendiri.

Akan tetapi, tentu saja apa yang disampaikan DC dalam buku ini bukan

sesuatu yang pasti. DC sendiri menyampaikan hal ini dalam pembukaan

bukunya. Apalagi jika orang yang anda hadapi adalah orang yang sudah

pernah membaca buku ini. Bisa jadi, walaupun dia berbohong, dia bisa

memainkan matanya seolah-olah dia tidak berbohong. Mungkin ini yang

menyebabkan RR sangat khawatir kalo ‘rahasia gelap’ ini lebih banyak

terbongkar.

Walaupun DC seorang yang perfeksionis, bukan berarti karyanya ini tanpa

kekurangan. DC sebenarnya sangat sadar bahwa sebuah buku tidak harus

tebal, namun padat dan berisi. Sayangnya DC tidak menjalani apa yang ia

yakini sendiri. Ia bahkan menambahkan terlalu banyak cerita yang kurang

begitu sejalan dengan tema buku ini. Contohnya pada bagian awal, ia

menyampaikan dongeng mengenai pembagian harta warisan raja. Dongeng ini

pasti sudah sering kita ketahui dari majalah anak-anak, terutama bagi

yang masa anak-anaknya cukup bahagia. Cuma saja DC membuat dongeng ini

dalam versi lengkapnya hingga lebih 20 halaman sendiri. Padahal DC

hanya sekedar ingin menyampaikan bahwa tidak semua sulap yang tampak

sihir sebenarnya mengandung sihir.

Setengah terakhir dari buku ini berisi fiksi, dimana DC bercerita bahwa

ia bertemu seseorang yang memiliki sosok seperti penyihir Merlin. Mulai

dari sinilah, tampak DC memaksakan diri untuk menulis fiksi. Ceritanya

tampak bertele-tele dan banyak dialog yang diulang. Alih-alih membuat

pembacanya penasaran, malah membuat pembacanya bosan.

Penambahan cerita fiksi yang berdurasi hampir setengah dari buku ini

sesungguhnya sudah tidak nyambung dengan tema awal dari buku ini.

Bahkan bagian ini seharusnya menjadi buku sendiri. Dengan demikian,

toko buku pun tidak akan bingung menaruh buku ini, apakah di bagian

fiksi atau non-fiksi.

Sebagai penutup, saya simpulkan buku ini cukup layak dibaca terutama

bagi anda yang tertarik dengan ‘Rahasia Gelap’. Cuma jangan banyak

berharap akan banyak ‘rahasia gelap’ yang diungkap, karena kalo terlalu

banyak ‘rahasia gelap’ yang diungkap, tentu rahasia ini akan menjadi

tidak gelap lagi.

Menangani Sakit Anak: Best Practice

Wednesday, May 10th, 2006

Berikut adalah penyakit anak yang umum dan cara mengatasinya:
1. Demam
a. 40: hub dokter
2. Hidung tersumbat
a. Tetesi dengan air garam steril
b. Hirup uap air panas
c. Ruangan tidur pakek humidifier (kalo nggak punya beli) atau taruh seember air panas di ruang tidur (hati-hati ya)
3. Batuk berdahak
a. Minum air putih hangat; atau
b. Teh manis hangat juga boleh; atau
c. Campuran kecap, garam dan jeruk nipis
4. Diare dan/atau muntah
a. Jangan minum obat anti diare (kaopectate, smecta dll)
b. Jangan minum obat anti muntah
c. Cukup banyak minum oralit, pedialyte, atau
d. Pocari sweat (anak-anak paling doyan kalo yang ini) atau
e. Koloid Madu (nyang ini pengobatan ala Nabi)

Cara buat koloid madu:
Tambahkan 1 sendok madu ke dalam botol Aqua 600ml yang berisi kurang lebih 450ml. Lalu kocok ke atas ke bawah sebanyak paling dikit 50 kali, agar tercipta koloid yang merata. Makin koloid, makin mudah penyerapannya

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” An-Nahl:69

Berikut kondisi kapan orang tua harus menghubungi dokter :
1. Bila bayi berusia 38C
2. Bila bayi berusia 3 – 6 bulan dengan suhu tubuh > 38.3C
3. Bayi dan anak berusia > 6 bulan, dengan suhu tubuh > 40C

Jenis obat lain menurut ISLAM: doa, infaq, tahajud, zikir, senyum, silaturahmi, madu dan ingat:

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,” Asy Syu’araa(26):80

Mudah-mudahan bermanfaat

Disarikan dari
- Common Problem in Pediatrics by Dr. Wati
- Fever in Children by Dr Wati
- Milis sehat@yahoogroups.com
- Sumber lainnya untuk pengobatan ala Nabi

Kenapa anak jadi Durhaka ?

Wednesday, May 10th, 2006

Akhir-akhir banyak sekali kisah anak durhaka. Kisah terakhir, yang membuat anak saya takut adalah kisah “Anak durhaka menjadi Ikan Pari”. Tampak sekali hoaxnya dari kisah ini, soalnya cerita ini, yang saya ketahui terdapat 4 versi yaitu versi Aceh, Kalsel, Sulsel, dan Malaysia. :P.
Pada kesempatan ini saya tidak membahas kisah tersebut, tapi menceritakan kisah jaman Umar bin Khattab yang mengisahkan kenapa anak jadi durhaka. Berikut kisahnya:

Bermula seorang bapak yang lapor ke Amirul Mukminin (AM), Umar bin Khattab, mengenai anaknya yang durhaka. Lalu AM menyuruh sang bapak untuk memanggil anaknya menghadap. Di hadapan sang bapak, AM dan sang anak bertanya jawab.

“Hai anak muda, bapakmu bilang engkau anak durhaka, benarkah demikian ?”

“Ya amirul mukminin, sebelum saya menjawab, bolehkan saya bertanya lebih dahulu ?”

“Boleh, silakan”

“Apakah kewajiban seorang bapak terhadap anaknya ?”

“Kewajiban seorang bapak kepada anaknya ada 3: yaitu memberikan seorang ibu yang shalihah, memberikan nama yang baik dan mengajarkan AlQuran”

“Wahai Amirul Mukminin, ketahuilah ketiganya tidak aku dapat dari bapakku. Ibuku seorang majusi, namaku bermakna buruk, dan aku tidak pernah mendapat pelajaran AL-Quran dari dia”

Lalu Umar bin Khattab berkata kepada sang Bapak:

“Sesungguhnya engkau telah lebih dahulu durhaka terhadap anakmu, sebelum anakmu durhaka terhadapmu”

So, pren. Ternyata anak menjadi durhaka itu “Bukan salah Bunda Mengandung” tapi Bapak lupa pakai sarung .

WAHAI PARA (CALON) AYAH, SADARLAH, SEBELUM TERLAMBAT.

Anak masih lincah kok, disuruh rawat Inap

Monday, May 8th, 2006

Ini kisah pengalaman saya yang ketiga. Kejadiannya akhir 2005. Waktu itu anak kedua saya, 3 tahun, batuk dan sedikit demam lima hari berturut-turut. Lalu saya bawa ke DSA. DSA memutuskan rawat inap. Saya tidak mau, soalnya anak saya masih lincah, mau makan dan minum. Kenapa harus rawat inap ? Saya mencoba minta untuk rawat jalan saja, tapi DSA tersebut menolak. Dia bilang, dia tidak berani, soalnya si anak sudah sakit batuk dan demam cukup lama.
Akhirnya saya minta dirujuk RS lain, dimana dia juga praktek. Saya juga bilang bahwa saya masih butuh cari pembantu, soalnya pembantu saya baru saja pulang kampong dan belum kembali. Lalu DSA tersebut menuliskan rujukan. Saya baca rujukan tersebut, berisi berbagai macam infuse, obat dan tes yang harus diberikan kepada anak saya. MENGERIKAN !!!
Saya nggak habis pikir, kenapa anak yang masih lincah begini sudah harus rawat inap. Pengalaman anak saya yang pertama (lihat kisah sebelumnya “Konstipasi kok dikira mencret. Tidak nyambung”), sempat stress (nangis) selama satu jam setelah dipasangi selang infuse. Dan saya yakin itu akan menyebabkan kondisi anak saya semakin memburuk.
Akhirnya saya putuskan untuk mencari second opinion. Kessokan harinya, saya bawa anak saya ke dokter spesialis paru dan asma. Dokter tersebut mendiagnosis anak saya terkena asma, namun dia minta untuk dilakukan roentgen. Untuk sementara dokter tersebut memberikan obat. Salah satunya, Zithromax (antibiotic?) dengan dosis 3ml/hari. Alhamdulillah tidak sampai 2 hari, anak saya sembuh total dari batuknya.
Demikianlah kisah saya yang ketiga. Moralnya adalah SECOND OPINION itu penting.

Konstipasi kok, dikira mencret. Tidak Nyambung.

Monday, May 8th, 2006

Kisah ini terjadi sekitar tahun 2001. Waktu itu anak saya yang pertama berusia 2 tahun, sembelit. Dia sudah beberapa hari tidak buang air besar (BAB). Ketika kami menginap di rumah orang tua, dia mulai rewel, dan badannya agak hangat, mungkin karena lama tidak buang air. Lalu kami membawanya ke rumah sakit PP dikawasan mayestik, karena RS itu yang paling dekat dengan rumah orang tua saya.
Waktu itu hari minggu, tidak ada dokter, bahkan dokter jaga sekalipun (kalo tidak salah). Saya berharap anak saya bisa mendapat tindakan langsung dari dokter agar bisa segera BAB. Ternyata tidak. Tindakan yang diambil adalah menginfus anak saya. Tahukah anda ? anak saya menangis hampir satu jam, dengan jarum infuse menempel di tangan. Perawat yang ada di situ pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah satu jam anak saya diam, mungkin karena kecapekan, mungkin pula karena sudah bisa menerima keadaan bahwa dia harus diinfus. Lalu masuklah anak saya sebagai pasien rawat inap.
Anak saya diambil sample darah dan urinenya. Saya mulai sebel, apa hubungannya darah dan urine dengan penyakit susah BAB (konstipasi). Tapi saya masih pasrah. Perawat sempat minta kotoran anak saya untuk dicek. Saya makin sebel, la wong penyakitnya susah BAB, kok malah minta kotorannya. Sungguh tidak nyambung.
Keesokan harinya dokter datang. Dengan entengnya dokter bertanya apakah anak saya mencretnya sudah berkurang. Wah benar-benar tidak nyambung nih dokter. Saya mulai nggak percaya sama nih RS.
Lalu saya kasih anak saya papaya. Nggak berapa lama setelah makan papaya, anak saya bisa BAB. Alhamdulillah. Setelah itu dia sudah tidak rewel lagi, bahkan minta jalan-jalan sambil nenteng infuse.
Keesokan harinya saya minta pulang, tapi sempat ditahan sama perawat agar jangan pulang dulu. Saya lupa alasan perawat, kalo tidak salah alasannya adalah menunggu hasil tes darah. Tapi saya bersikeras tetap ingin pulang, soalnya anak saya memang sudah sehat. Saya pun beralasan ke perawat bahwa saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama. Dan kami pulang akhirnya pulang.
Demikian kisah saya. Dalam kisah ini saya ingin menggambarkan betapa pelayanan kesehatan menjadi semata-mata kepertingan bisnis.
Wallahu’alam

Dan tukang pijet pun lebih tahu penyakit anak saya

Monday, May 8th, 2006

Kejadiannya awal tahun 2005. Ketika itu anak saya yang ketiga berusia 7 bulan. Entah kenapa dia muntah berulang-ulang. Memuntahkan cairan berwarna hijau. Mula-mula kental bercampur makanan, lama-lama semakin encer. Tidak ada gejala lain seperti demam atau mencret. Lalu saya bawa ke rumah sakit, dan diperiksa oleh dokter Spesialis Anak. Menurut dokter, anak saya sudah dehidrasi dan perlu rawat inap. Saya pun menyetujuinya. Kemudian anak saya diinfus dan mengalami serangkaian pengetesan. Diantaranya ronsen paru, tes mantuk, tes darah, tes urine, namun tidak ditemukan penyakit. Kemudian dilakukan ronsen abdomen dan tes barium, namun tidak ditemukan kajanggalan pada organ tubuh. Lalu dokter spesialis anak tersebut menkonsulkan ke spesialis anak subspesialis pencernaan. Ditangani oleh subspesialis pencernaan, anak saya diberi suntikan LOSEC (antibiotic ? di sini saya heran, kenapa anak saya tidak terinfeksi penyakit apapun tapi diberi antiobiotik) yang katanya paten itu. Namun suntikan tersebut hampir tidak berpengaruh sama sekali. Anak saya tetap muntah dan muntah. Ada yang mengatakan reaksinya mungkin setelah beberapa hari. Ternyata setelah beberapa hari tetap saja muntah dan muntah.
Selama 10 hari di rumah sakit, anak saya tidak mengalami perubahan yang berarti. Bahkan penyakitnya saja tidak diketahui. Selama itu pula anak saya diinfus dan mengalami beberapa kali pindah tempat infuse, karena infusnya sering mampet. Dari tangan kanan, lalu tangan kiri, lalu kaki. Bahkan beberapa suster pun sudah tidak tega untuk memasang infuse ke anak saya. Sehingga didatangkanlah tim infuse yang lebih ahli. Sedangkan saya hanya bisa menghibur diri dengan membaca buku La Tahzan (Jangan Bersedih) karya Said Alqarni yang best seller itu.
Dalam waktu tersebut, saya mencari-cari artikel mengenai muntah di Internet. Ternyata dapat. Kemungkinan katup di antara kerongkongan dan lambung atau antara lambung dengan usus 12 jari ada masalah. Tapi kemungkinan itu sudah dibantah dengan adanya hasil tes barium yang mengindikasi kerja normal dari kedua katup tersebut.
Setelah 10 hari, dokter subspesialis pencernaan membolehkan anak saya pulang. Saya pun menginginkan demikian mengingat tidak ada perubahan yang berarti. Ketika akan pulang pun anak saya masih muntah dan muntah. Suster jaga pun pada kasihan dan meminta kami tetap meneruskan pengobatan, tapi saya pikir saya harus cari alternative lain.
Orang tua saya menganjurkan berobat ke DSA di daerah Percetakan Negara. Maka sehari setelah pulang dari RS saya langsung membawa anak saya ke dokter tersebut. Saya juga sudah membawa berbagai perlengkapan kalo anak saya nanti harus langsung rawat inap.
Ternyata klinik dokter tersebut adalah klinik yang relative kecil. Tapi saya sudah pasrah, dan berharap mudah-mudahan melalui dokter di klinik kecil ini, Allah memberikan kesembuhan kepada anak saya. Ketika bertemu dokter, saya langsung bercerita kronologis penyakit anak saya. Kemudian dokter itu memeriksa anak saya. Mengeluarkan jarum. Baca Basmalah dan Takbir. Lalu menusuk leher anak saya dengan jarum 2x. Ternyata beliau juga ahli akupuntur.
“Apakah harus Rawat Inap dokter ?” Tanya Saya. Tidak perlu jawab dokter tersebut. Saya pun lega. Dokter mendiagnosa (berdasarkan hasil ronsen dan tes mantuk) bahwa anak saya mantuk positif, dan itulah penyebab muntahnya. Lalu dokter itu memberikan resep obat paru dan resep makanan dan beberapa tips kesehatan.
Setelah dari dokter tersebut, 2 minggu anak saya bebas dari muntah. Namun setelah itu anak saya muntah kembali. Lalu saya bawa kembali ke dokter tersebut dan kembali anak saya diakupuntur. Diagnosanya anak saya “KECENGKLAK”. Alhamdulilah, setelah itu anak saya sehat kembali.
Suatu waktu anak saya terjatuh dan muntah. Saya bawa lagi ke dokter tersebut. Setelah diakupuntur, dokter menyarankan untuk CT Scan. Alhamdulillah setelah hasil CT Scan tidak menunjukan gejala apa-apa. Alhamdulillah, anak saya sudah sehat kembali.
Tidak berapa lama, gejala muntah itu muncul kembali, tapi kali ini saya tidak membawa ke dokter anak, tapi membawanya ke tukang pijet. Diagnosa tukang pijet bahwa anak saya KECENGKLIK (kecengklak dan kecengklik tampaknya mengacu pada penyakit yang sama), dan katanya sebagian bayi memang mudah kecengklik. Hal itu yang menyebabkan muntah. Mau dikasih obat apa juga nggak bakal sembuh, katanya. Lalu anak saya dipijet. Alhamdulillah setelah dipijet, muntahnya hilang, bahkan tidurnya menjadi enak.
Setelah beberapa kali terapi pijet, anak saya alhamdulillah sembuh total dari penyakit muntah tersebut.
Demikian kisah saya, mudah-mudahan bisa bermanfaat terutama bagi mereka yang kebetulan menemukan masalah yang sama dengan anak saya. Dan yang terpenting adalah kita musti yakin bahwa kesembuhan itu semata-mata datang dari Allah. Dokter dan tukang pijet adalah perantara tangan Allah. Dan saran saya, pilihlah dokter yang suka mengatakan bahwa kesembuhan itu datang dari Allah semata. Karena biasanya melalui dokter yang tawadhu inilah tangan Allah bekerja.
Pasang_selang_infus

Hai_siapa_ya