Siapa sangka badai akan datang ?
Monday, December 26th, 2005Minggu, 25 Des 2005
Siang itu terik sekali. Bahkan aku sempatkan bermain sepak bola dengan anak-anak, Tamam yang masih berusia 3 tahun dan Bita, 1 tahun di halaman. Sampai azan Asar berkumandang tidak ada tanda-tanda akan turun hujan apalagi badai. Namun ketika pukul 16.00 tiba-tiba langit menjadi mendung, hujan turun disertai angin yang sangat kencang. Jendela, pintu dan atap berguncang. Dengan sigap aku tutup dan kunci jendela dan pintu. Tidak berapa lama lampu pun mati, dan badai makin menunjukkan kekuatannya. Tamam, anakku yang kedua, tampak ketakutan mendengar sky roof yang hanya terbuat dari plastic berguncang-guncang. Ia yang biasanya tampak jagoan menirukan gaya power rangers, kini hanya duduk tertegun memandangi sky roof yang berguncang tersebut. Makanan ringan kesukaannya hanya dipegangnya tidak segera dimakan. Belum pernah aku lihat wajah dan pandangannya seperti itu. Aku tahu ia takut. “Abang takut ya bang ?”, tanyaku padanya. “Iya”, jawabnya. Aku pun langsung datang memeluk untuk menenangkannya. Dalam hati aku tertawa geli mengingat kedua adik dan kakaknya yang perempuan malah tidak menunjukan ketakutan, biasa-biasa saja. Tak berapa lama, Nada, 6 th, anaku yang pertama, bertanya “Yah, kok anginnya kencang banget sih ?”. Aku pun menjawab “Itu karena Allah sedang marah”. Jawaban terbodoh yang seorang ayah berikan kepada anaknya. Walaupun saat itu aku tidak merasa bodoh. Bagaimana mungkin aku menjawab demikian ? Sedangkan aku sendiri tidak tahu apa benar Allah sedang marah. Seharusnya aku memberikan jawaban yang lebih bermutu lagi. Misalkan dengan menjelaskan konsep Peringatan, Ujian dan Azab. Peringatan dan Ujian adalah cermin kasih sayang Allah, sedangkan Azab adalah cermin murka Allah. Peringatan diberikan kepada seorang mukmin agar ia ingat dan kembali ke jalan yang lurus, lalu ujian diberikan kepada seorang mukmin sebagai tanda kenaikan tingkat keimanan. Sedangkan azab adalah murka Allah, dan kalo Azab sudah berbicara, tak akan ada lagi yang tersisa.
Senin, 26 Des 2005
Pagi ini, aku berangkat ke kantor.
Masih kulihat sisa-sisa keganasan badai kemarin. Pohon-pohon bertumbangan, bahkan ada yang sampai ke akar-akarnya. Kios-kios dipinggir jalan banyak yang hancur tertimpa pohon yang tumbang. Atap asbes tempat biasa aku mencuci mobil, setengahnya terbang entah kemana. Di beberapa tempat kabel listrik dan kabel telepon terpaksa disangga dengan kayu seadanya. Aku pun bertanya dalam hati, Kenapa ? Tak terasa lagu Ebiet mengiang di telingaku.
Mungkin Tuhan mulai bosan,
Melihat tingkah kita,
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Semoga kita bukan manusia yang bangga dengan dosa-dosa kita. Amin.